Berpikir di luar kotak tidak identik dengan pemikiran liberal yang menerobos seluruh batasan prinsip agama, adat istiadat, serta mendewakan kebebasan individu yang menghancurkan tatanan hubungan sosial sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.
Apa yang pernah dicontohkan oleh Gus Dur dalam berpikir di luar kotak adalah kreatifitas pemahaman terhadap suatu masalah yang masih dapat diperdebatkan tanpa memaksakan suatu kebenaran mutlak karena kebenaran mutlak bagaimanapun mayoritas bangsa Indonesia meyakini milik Yang Maha Kuasa. Melalui proses yang memperkaya khazanah cara pandang, cara memahami dan cara menyelesaikan suatu persoalan tersebut, sebenarnya kita sebagai bangsa akan membangun budaya saling menghargai pendapat dan keyakinan yang dapat membukakan pintu dari persoalan yang melilit bangsa Indonesia.
Tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia juga memiliki sifat rasisme yang relatif tinggi antar etnis, memiliki kecurigaan yang tinggi antar agama, serta memiliki emosi yang kurang terkendali ketika konflik tercipta, khususnya apabila darah sudah menetes.
Bangsa Indonesia juga memiliki mentalitas gerbong alias pengikut serta bukan lokomotif, sehingga tidak memiliki keyakinan dan kepercayaan pada dirinya sendiri. Hal ini memudahkan terjadinya gerakan-gerakan massa yang sebenarnya hanya ikut-ikutan belaka tanpa memahami gerakan yang diikutinya akan bergerak kemana. Saya ingat Gus Dur pernah menyampaikan "...lha kalo saya salah siapa suruh ikuti saya?"
Feodalisme, struktur sosial masyarakat petani dan masih banyaknya msyarakat yang kurang dalam hal pendidikan merupakan identitas bangsa Indonesia yang sayangnya hingga saat ini masih dimanfaatkan untuk isu-isu politik. Feodalisme tersebut adalah kotak. Kepentingan politik sempit juga kotak. Berpikirlah untuk membangun bangsa secara sungguh-sungguh dengan saling sharing pengetahuan guna mencerdaskan bangsa Indonesia secara massal...berbondong-bondong dan janganlah pelit berbagi ilmu kepada sesama anak bangsa sehingga kita sebagai bangsa akan memiliki perasaan satu persaudaraan yang kuat.
Sekedar contoh :
Dalam soal beragama, kontroversi Gus Dur tentunya lebih luar biasa lagi. Namun semua dapat dijelaskan dalam kerangka berpikir di luar kotak. Sepintas lalu, barangkali kita menilai adanya kesembronoan dalam beragama yang dipraktikan gus Dur. Namun lebih jauh dilihat kembali, Gus Dur melangkah dalam keyakinan keimanan dan refleksi kemanusiaan yang mencoba melihat perbedaan beragama bukan dari teks sebagaimana mayoritas komunitas Muslim namun dari wisdom keIslamannya. Pada saat yang bersamaan Gus Dur juga menampilkan sisi manusia tidak ada yang sempurna dengan berbagai kotradiksi yang dapat kita pelajari sebagai sebuah proses dialog filosofis yang akan memperkokoh keyakinan kita terhadap sesuatu.
Salam
Dharma Bhakti
No comments:
Post a Comment