Jika tiba saatnya ia memilih diam sebagai sebuah percakapan, yang
menjabarkan begitu banyak kemungkinan yang tak tertebak, menyembunyikan
ketidak tahuan bahkan hal hal yang diketahui sekalipun. Dia juga
menyempurnakan kepura puraan, membuat sikap menjadi pasif.
Dipalsukanya kepalsuan hingga kerap menjelma menjadi kebenaran. Bahkan gerak tubuh dan tarikan
nafasnya hanyalah seutas kewajiban yang menyatu dengan udara dari
angkasa mana sana. Jubah kebajikan dipersembahkan sebagai seragam,
menyembunyikan badai yang terkandung pada setiap ayunan jarum arloji.
Separuh jalan yang amblas telah hancur menjadi lumpur, menghambur
menyusuri lereng curam hingga nanti kering didasar jurang dan lalu
mentransformasikan diri menjadi butiran debu yang kelak akan meliuk
dipecundangi angin.
Dikira
gampang meluruskan kaki pincang, letihlah yang datang menjadi jawaban.
Ciuman mentari meredam amukan gundah gulana membawa kabar tentang langit
berisi bunga, satu satunya di galaksi. Cerita tentang kabut dan asap
yang saling berbicara, tentang mimpi dan mimpi yang saling bertemu telah
menyempurnakan tampilan Sang Palsu. Melambari telapak kaki yang hancur
tertusuk batuan dengan sandal fantasi berlogo segitiga. Tubuh seolah
menari dilantai mega mega, dengan irama angin meniupkan wangi sorga.
Bersama sebentuk bintang, bersetubuh menghayati alam memanjakan
keinginan hingga lupa diri juga lupa ingatan.
Selayang udara
hangat melintas diam diam, lembutnya yang menyentuh kulit membangkitkan
kehidupan pada pori pori membuat darah menagih untuk dijelajahi senti
demi senti setiap bidang tubuh. Iapun melebur malam menjadi imajinasi,
bercerita tentang dunia tak tersentuh angan angan, apalagi cerita
kepalsuan. Sang Palsu sibuk merentangkan busur panahnya, meluncurkan
kata kata yang bergedebam melentingkanya kelangit tinggi, membuatnya
mati. Nafas mereka menyatu, meniadakan dimensi ruang dan waktu yang
membentengi rindu, menayangkan drama animasi terbaik abad ini. Ia
menjadi bayi, tergolek tak berdaya tanpa jubahnya, ditelanjangi lembar
demi lembar piranti kepalsuanya. Ia rasa ia menjadi dirinya sendiri,
hidup diantara debu dan udara alam nyata.
Hingga tiba saatnya dia
akan kembali, bertemu pagi dan seribu satu urusan duniawi, kepalsuan
demi kepalsuan lain lagi. Kepalsuan belaka yang menyebabkan pagi
dianggap sebagai hari baru, dimana segala bebas dimulai bak ladang
harapan yang minta ditanami. Tak sadar isi dunia hanyalah kehausan akan
keinginan dan kelaparan akan ketidak inginan, dengan peraturan peraturan
yang dibuat sedemikian rupa sebagai juklak pelaksanaan. Batasan demi
batasan dibuat dengan azas ambigius demi celah pembelaan. Ah, betapa tua
dunia bahkan ketika tak disadari bahwa sekarang tak perlu ada api untuk
memunculkan asap. Keajaiban menjadi hal biasa, keluar biasaan menjadi
budaya yang dimaklumi begitu saja pun tanpa alasan apapun. Garis antara
palsu dan nyata menjadi kabur oleh pijakan kaki kaki kotor para pejalan,
dan kepalsuan perlahan menjelma jadi kebenaran.
- Pejalan Sunyi -
No comments:
Post a Comment